Berita
Laporan Lengkap Festival Puma 2008 Oleh : M. Jufri Rahim

Pulau Makasar kini mendunia. Buktinya, jika membuka internet maka anda akan menemukan sedikitnya 745.000 kata yang berhubungan dengan “Pulau Makasar” pada mesin pencari www.google.co.id. “Keramaian” dunia maya seperti itu berkaitan dengan pelaksanaan Festival Perairan Pulau Makasar yang akan digelar mulai 18-21 Juli 2008.

             Festival ini telah melambungkan nama pulau berpenghuni sekitar lima ribu jiwa tersebut. Pemerintah Kota Baubau selaku penyelenggara melakukan promosi besar-besaran, termasuk melalui situs internet.  

            Festival yang akan dibuka resmi Dirjen Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan, Dr. Ir. Ali Supardan, M.Sc dipastikan meriah. Kegiatan ini merupakan ajang promosi dengan rangkaian kegiatan yang berpuncak pada sejumlah kegiatan bahari dan wisata budaya yang bersifat turnamen dan partisipan, dengan memperebutkan Piala bergilir Menteri Kelautan dan Perikanan RI, serta Piala Bergilir Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI.

            Jenis kegiatannya antara lain adalah parade kapal hias yang melibatkan ratusan armada milik nelayan yang akan menempuh rute dari Pulau Makasar sampai pesisir Pantai Kolema, di daratan Baubau. Iring-iringan kendaraan laut dan perahu hias ini menjadi salah satu bagian dari ritual Tuturangiana Andala, yakni acara adat nelayan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah menciptakan laut dengan segala potensinya Selain itu ada acara makan ikan gratis sepanjang pantai Pulau Makasar.

            “Semua bernuansa wisata dengan memanfaatkan potensi bahari. Sebagai salah satu bentuk komitmen untuk menjadikan kawasan pesisir sebagai lahan untuk memenuhi kebutuhan bagi masyarakat serta menjadi inspirasi untuk meningkatkan perekonomian,” kata ketua panitia, Drs. Saifuddin Azis.

Kegiatan yang baru pertama kali diselenggarakan ini menampilkan pula pesta adat ma’taa, perahu naga, banana boat, parasailing, jet sky, flying fish, pekakande-kandea, volly pantai, renang tradisional, dayung tradisional, dan malam keseninain. Aneka kegiatan itu diracik dalam nuansa wisata sehingga menjadi ajang promosi dan pengembangan potensi bahari yang dimiliki Kota Baubau.

            Momentum ini juga bakal mengungkap kronologis sejarah masa lalu, diantaranya menjawab pertanyaan seputar penamaan Pulau Makasar di Kota Baubau. Karena memang, bagi orang yang pertama kali mendengar nama Pulau Makasar akan terbayang ibukota Provinsi Sulawesi Selatan: Makassar, walaupun bagi warga Buton Raya (Baubau, Buton, Wakatobi) dan sekitarnya akan paham bahwa itu adalah nama sebuah pulau yang terletak di Teluk Baubau.

Pulau ini memiliki kekayaan alam laut yang luar biasa. Pada tahun 1980-an hingga akhir 1990-an, di perairan Pulau Makasar bediri perusahaan mutiara yang dikelola orang Jepang. Penduduk pulau tersebut sebahagian besar bekerja sebagai nelayan. Mereka menangkap ikan hingga ke berbagai provinsi di tanah air, seperti Irian Jaya, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, dan sejumlah pesisir pantai Sulawesi Tenggara.

Karena itu pula maka banyak warga asal Pulau Makasar yang sudah menetap di beberapa tempat di pesisir Sultra, seperti Baho, Wawosunggu, Moramo (Kabupaten Konawe Selatan), Toronipa, Taipa,  (Kabupaten Konawe Utara), Bungkutoko, Kampung Butung, Talia, Nambo (Kota Kendari), dan lain-lain.

Warga Pulau Makasar banyak yang merantau. Selain sebagai nelayan, tentu ada pula yang bekerja pada sektor lain yang juga tersebar di hampir semua provinsi di Indonesia. Baik bekerja di sektor swasta maupun bekerja pada pemerintahan (PNS, TNI/Polri).

Situs resmi pemerintah Kota Baubau melaporkan bahwa festival ikut dihadiri utusan daerah lain, termasuk manca negara seperti Korea dipastikan akan hadir. Tidak ketinggalan sejumlah event organizer ikut menggelar kegiatan pameran dan bursa cindermata di Pantai Kamali.

Suasana di Kota Baubau menjelang pelaksanaan festival tampak ramai. Spanduk spanduk dukungan menghiasi ruas-ruas jalan di Kota Baubau. Demikian pula di kantor kantor pemerintah dan swasta serta sekolah-sekolah ikut memajang spanduk dukungan terhadap kegiatan festival.

Menurut Walikota Baubau MZ. Amirul Tamim, Festival Perairan Pulau Makasar bertujuan meningkatkan citra  Kota Baubau sebagai kota wisata di Kawasan Timur Indonesia yang dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat, serta Meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap nilai-nilai kebaharian dan situs-situs sejarah yang terdapat dalam wilayah Kota Baubau.

Fertival Perairan Pulau Makasar akan menjadi jadwal rutin kegiatan di daerah. Selanjutnya akan diajukan untuk persiapan menjadi ajang nasional yang masuk dalam kalender wisata nasional.

Sektor kepariwisataan di Kota Baubau secara umum telah berkembang dan mengarah kepada kegiatan ekonomi produktif masyarakat, bahkan secara umum telah menjadi pijakan pemerintah daerah untuk membangun kota dalam berbagai dimensi. Dalam dua tahun terakhir, Kota Bau-Bau banyak mendapat kunjungan dari wisatawan mancanegara dan lokal, dengan tercatatnya Bau-Bau dalam buku rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai Kota Pemilik Benteng terluas di dunia, setelah sebelumnya rekor ini dimiliki oleh negara Denmark. (**)

 

Populer dengan Sebutan Puma

 

Festival Perairan Pulau Makasar 2008 akan dibuka resmi mulai hari ini. Momentum tersebut sekaligus mengungkap kronologis sejarah Kesultanan Buton masa lalu, diantaranya menjawab pertanyaan seputar penamaan Pulau Makasar di Kota Baubau.

 

Bagi orang yang pertama kali mendengar nama Pulau Makasar akan terbayang ibukota Provinsi Sulawesi Selatan: Makassar. Padahal Pulau Makasar adalah sebuah pulau kecil, seluas 138,8 hektar yang terletak di teluk Baubau. 

Pemerintah Kota Baubau yang dimpimpin Walikota MZ Amirul Tamim dan Wakilwalikota Laode Moch. Halaka Manarfa telah menetapkan pulau berpenghuni lima ribu jiwa tersebut sebagai Pusat Kawasan Industri Perikanan dan Pariwisata Terbatas (KIPPT). Hal ini didasari oleh potensi besar yang dimiliki Pulau Makasar, sebagai kawasan bahari yang memiliki garis pantai yang indah, tempat menikmati sunset teluk Baubau hingga nilai historis yang ada di dalamnya. Seperti terdapatnya Makam Sultan Mardan Ali Oputa Yi Gogoli.

Sultan Buton VIII yang memerintah antara tahun 1647 – 1654 tersebut wafat karena mendapat hukuman penggal/pancung dari Sara Kesultanan, karena dinilai melanggar konstitusi negara sebagaimana yang disiratkan dalam Undang-Undang Murtabat Tujuh (Undang-Undang Ketatanegaraan Kesultanan Buton).

            Ini pula membuktikan jika sejarah Kesultanan Buton telah menganut azas hukum yang kuat dalam bernegara, termasuk dianutnya sistem demokrasi dalam tata pemerintahan. Di pulau ini pula banyak terdapat objek wisata budaya yang tumbuh subur di masyarakatnya, seperti Tutturangiana Andaala (ritual laut, persembahan rasa syukur kepada sang Pencipta) dan berbagai kebudayaan lainnya.

Makam Sultan Buton VIII tersebut sekaligus menandaskan umur Pulau Makasar yang sudah mencapai ratusan tahun. Atau dapat pula dikaitkan dalam sejarah Kerajaan Buton yang ditulis A Ligtvoet tahun 1887 yang menyiratkan asal-usul nama Pulau Makasar.

Disebutkan, pada tahun 1666 Gowa mengirim armada berkekuatan 20.000 personel untuk menggempur Buton yang dianggap melindungi Aru Palakka, pemberontak terhadap kekuasaan Raja Gowa. Aru Palakka adalah putra bangsawan Bone, melarikan diri ke Buton pada tahun 1660 diterima baik oleh Sultan Buton sehingga kemudian melahirkan ikrar kerjasama antara Buton dan Bone bahwa Buton adalah Bone Timur dan Bone adalah Buton Barat. Konon, waktu ke Buton Aru Palakka ikut membawa putri Raja Gowa bernama Daeng Talele yang telah diperistri.

Pada akhir tahun 1666, Batavia mengirim pasukan ke Makassar lalu bergerak ke Buton yang sedang digempur oleh pasukan Gowa pimpinan Karaeng Bonto Marannu. Pasukan kompeni itu dipimpin Admiral Cornelis Speelman berkekuatan 500 orang Belanda dan 300 bumiputra, diantaranya termasuk Aru Palakka.

            Pasukan Bonto Marannu pun kalah atas strategi militer dan persenjataan kompeni yang lebih modern. Sekitar 5.500 orangnya ditawan di sebuah pulau kecil di perairan Teluk Baubau. Pulau itu oleh orang Buton disebut Liwuto. Liwuto artinya pulau. Namun tawanan perang tersebut kemudian dilepas oleh Sultan Buton setelah pasukan Belanda meninggalkan Buton, pergi ke Ternate. Menurut Ligtvoet, pelepasan itu dilakukan setelah pimpinan pasukan Gowa membayar tebusan.

            Setelah peristiwa itu, Liwuto lebih dikenal dengan sebutan Pulau Makasar.  Kemudian dalam perkembangannya lagi orang lebih popular dengan nama Puma, singkatan dari Pulau Makasar.

            Perjalanan dari Kota Baubau ke Puma hanya kurang lebih 15 menit menumpangi ojek laut atau perahu mesin tempel. Sepanjang perjalanan kita dapat menyaksikan birunya laut yang masih relatif bersih. Sesekali kita melihat ikan melompat memperlihatkan kepalanya di atas permukaan air laut.

            Selain menjumpai makam Sultan Buton VIII di Puma juga kita masih mendapatkan sejumlah tempat bersejarah lainnya seperti Goa Keramat atau “Liana Binte” yang terletak di lingkungan Tanjung Batu, ujung Puma bagian Selatan yang berhadapan langsung dengan Kota Baubau. Goa tersebut sejak puluhan tahun ini ditutup dengan batu besar. Konon, oleh orang-orang tua dahulu menjadikan goa itu sebagai tempat bertapa untuk mendapatkan ilmu sakti.

            Tidak jauh dari goa terdapat tebing tinggi yang cukup strategis dibangun industri pariwisata bidang perhotelan. Di atas tebing itu sangat fantastis jika dibangun hotel berbintang. Dari tebing itu Kota Baubau rasanya bisa digenggam.

             Kemudian di sebelah Timur tebing, berhadapan dengan Goa Keramat, terdapat hamparan pasir putih atau “Kabungi-bungi”. Kabungi-bungi hanya nampak saat air laut surut. Butiran pasirnya sangat halus dan lembek bila diinjak manusia akan tersedot sedalam mata kaki. Luas hamparan pasir yang akan tenggelam bila air laut pasang sekitar 15 Ha. Laut di sekitar Kabungi-bungi dijejali aneka batu karang dan ikan laut, bahkan oleh Dinas Perikanan Kabupaten Buton pada tahun 1990-an pernah ditemukan salah satu jenis spesis ikan yang tidak pernah ditemukan di laut manapun. Sayangnya, aneka biota laut disekitaran tersebut tidak terjaga baik. Sudah diambang kepunahan. Masyarakat nelayan setempat banyak menggantungkan hidupnya dari biota laut yang ada di sana. Kabungi-bungi serupa juga kita bisa jumpai di bagian Barat Puma, Kelurahan Sukanayo.

            Bukan hanya itu, potensi wisata pasir putih lainnya dapat dijumpai di ujung bagian Utara Puma. Namanya “Baana Bungi”. Pada tahun 1970-an, zaman pemerintahan Bupati Buton Zainal Arifin Sugianto hamparan pasir putih Baana Bungi yang menyerupai mulut buaya dijadikan tempat wisata. Setiap hari libur, banyak warga kota yang datang berrekreasi. “Waktu itu, di sana ada rumah-rumah semacam vila. Camat Wolio, Amir Dale, dulu paling rajin ke sana,” kenang Idien, pensiunan pegawai negeri kelurahan Liwuto. Di teluk Banabungi tersebut paling bagus digunakan untuk bermain sky air.  Oleh nelayan setempat hanya digunakan sebagai tempat membuang jaring, bubu dan jala ikan.

            Pasca pemerintahan Arifin Sugianto, Baana Bungi tercampakan. Sejak itu pasir putihnya menjadi sasaran pencurian untuk bahan bangunan. Pasir putih di sana diangkut malam dan siang hari dengan perahu lalu diseberangkan ke daerah-daerah sekitar seperti Lowulowu, bahkan ada yang sampai ke Kota Baubau. Pemerintah kelurahan setempat tidak punya kemampuan melarang. Aktivitas pengambilan pasir putih di Baana Bungi terus berlangsung sampai sekarang. Akibatnya, hamparan pasir tadinya menyerupai mulut buaya yang digenangi arus air laut di dalam mulutnya, kini sudah tidak berbentuk lagi. “Baana Bungi sudah terpotong hampir satu kilometer,” kata Idien. Tidak ada lagi “Kauma-umala” (sungai kecil). Pohon-pohon bakau besar sudah punah.

            Pasir Baana Bungi memang bagus untuk bahan bangunan sebab butirannya agak kasar. Berbeda dengan pasir putih yang ada di dua Kabungi-bungi lainnya yang cukup halus butirannya. Dapat diibaratkan seperti butiran tepung terigu.

            Walikota Baubau Amirul Tamim minta warga Puma untuk senantiasa menjaga keseimbangan lingkungan di pulau tersebut. Namun ia menitikberatkan pada hutan mini yang ada sebagai paru-paru pulau tersebut. Boleh jadi belum tahu kondisi kerusakan lingkungan di sekitar pesisir pantai dan biota laut di Puma yang justru membutuhkan perhatian lebih serius.

            Dampak kerusakan lingkungan laut di Puma secara langsung telah dirasakan PT Tiara Indopearl, sebuah perusahaan penanaman modal asing (PMA) yang bergerak di bidang budidaya kerang mutira. Perusahaan yang beroperasi di Puma mulai tahun 1988 tersebut terpaksa hengkang.

            Bukan hanya mutiara yang tereliminasi, potensi alam Puma lainnya ikut terganggu. Penyu, ikan kerapu dan teripang yang sejak dulu menjadi salah satu sumber ekonomi masyarakat, belakangan ini makin langka.

            Selain limbah minyak dan asap perahu motor alat angkutan pokok masyarakat pinggir pantai Teluk Baubau, termasuk Puma, limbah industri dan rumah tangga juga besar  kontribusinya bagi pencemaran laut di daerah tersebut. Tidak ketinggalan erosi lumpur dari Desa Karing-karing mengandung pestisida dicurigai sebagai sumber pencemaran berat di perairan Puma. Daerah persawahan transmigrasi dengan system irigasi itu terletak di hulu beberapa anak kali yang bermuara ke Teluk Baubau.

            Seiring dengan tidak bersahabatnya lingkungan laut itu, nelayan Puma bergeser ke daerah lain untuk menangkap ikan. Kebanyakan mereka pindah ke daerah Irian, Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi Tengah dan sejumlah tempat lain di Sultra. Di Kendari, misalnya, nelayan Puma menetap di Kelurahan Bungkutoko, sebelah kiri ambang masuk Teluk Kendari.

            Di Puma juga kita dapat menjumpai hasil kerajinan pertukangan kayu, mulai lemari, ranjang hingga perabotan lain yang terbuat dari kayu jati. Tukang kayu di Puma tergolong terampil, bahkan mereka mengerjakan rumah hingga di Kota Baubau dan Kendari.

            Dari sektor pendidikan, masyarakat Puma tidak ketinggalan. Saat ini terdapat 2 buah Taman Kanak-kanak, 3 buah Sekolah Dasar, sebuah SLTP, dan SMK Kelautan. Sementara untuk SMA anak-anak Puma harus ke Baubau pulang-pergi. Untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, banyak yang memilih ke luar daerah seperti Kendari, Makassar dan Jawa.

            Walaupun secara  administratif Puma masuk dalam wilayah Kota Baubau, nuansa alaminya masih sangat kental. Keheningan tanpa hiruk-pikuk kendaraan bermotor menjadi nuansa yang amat dominant. Hanya terdapat belasan sepeda motor, tidak ada mobil. Di daratan Puma belum ada jalan raya, kecuali garis-garis jalan setapak yang membelah blok-blok perkampungan penduduk. Sebagian jalan setapak itu telah dikeraskan dengan semen melalui proyek pengembangan kecamatan, dan sebagian lagi masih jalan tanah.

            Walikota Baubau, Amirul Tamim, pernah merencanakan membangun jalan lingkar di pulau itu sekaligus membangun jembatan penghubung Puma dengan Lowu-lowu untuk memperlancar aktivitas ekonomi. Jarak Puma dengan Lowu-lowu hanya sekitar 700 meter. Oleh pemerintahan Amirul di perairan yang memisahkan Puma dengan Pulau Buton itu telah dibangun tiang penyanggah kabel listrik yang menyatukannya dengan aliran listrik di Baubau. Pipa air bersih PDAM juga telah disambung langsung ke Puma melalui dasar laut, yang ditarik dari Lowu-lowu. Masyarakat Puma kini telah menikmati fasilitas air bersih PDAM dan layanan aliran listrik non stop, dan tentunya siap menungguh kehadiran investor untuk pengembangan industri pariwisata. (**)

 

Yusril Ihza Mahendra Pun Hadir

 

Pantai Lakorapu Pulau Makasar, 19 Juli 2008, dipadati sekitar 10 ribu pengunjung. Mereka menyaksikan acara bakar ikan, sebagai rangkaian Festival Pulau Makasar yang berlangsung 18-21 Juli 2008. Diantara pengunjung adalah Yusril Ihza Mahendra.

Yusril Ihza Mahendra ikut menikmati keindahan dan ketenangan alam Pulau Makasar. Sambil menenteng sebuah kamera profesional, Yusril berjalan kaki mengelilingi pulau seluas 138,8 hektar tersebut. Ia mengabadikan sejumlah situs bersejarah, diantaranya makam Sultan Buton VIII, Mardan Ali Oputa Yi Gogoli.

            Perjalanan mantan Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia di Pulau Makasar mendapat perhatian warga setempat. Bahkan tidak segan-segan sejumlah warga minta foto bersama. “Kesempatan kita berfoto dengan menteri dan calon presiden kita,” kata warga senang. Demikian pula dengan tokoh masyarakat ikut menyambutnya. “Alhamdulillah, selama ini kami hanya melihat bapak melalui layar televisi, sekarang sudah bertemu langsung,” kata Mauso Patu, salah seorang tokoh masyarakat, menjabat tangan Yusril.

            Yusril sudah beberapa kali mengunjungi Baubau, seringkali dalam rangka kegiatan partai (PBB). Catatan Kendari Pos menunjukkan bahwa Yusril Ihza Mahendra pertama kali ke Baubau dalam rangka pembentukan partai berlambang bulan bintang menjelang pemilu 1999, namun baru kali ini ke Pulau Makasar. “Sekarang saya memang rajin keluar-masuk kampung,” katanya ketika disapa Kendari Pos.

            Yusril ke acara “makan-makan” festival agak telat, sudah banyak pengunjung yang meninggalkan tempat. Kepadatan pengunjung hanya berlangsung sekitar empat jam, dari pukul 11.00 Wita sampai 15.00 Wita. Selama itu, Walikota Baubau MZ Amirul Tamim menelusuri pantai sepanjang 1,5 KM. Sesekali juga warga minta foto bersama walikota.

            Pengunjung acara bakar ikan dan makan gratis datang dari berbagai tempat. Selain berasal dari Kota Baubau, juga dari daerah pesisir seperti Waruruma, Bungi, dan Lowulowu. Mereka menumpangi puluhan armada laut.

            Di pantai barat Pulau Makasar tersebut setiap instansi pemerintah dan swasta lingkup Kota Baubau mengambil bagian. Mereka menyediakan ikan dan makanan khas daerah seperti Lapalapa, Kambose, Kapusu, Kasoami, dan aneka penganan lainnya. Semua itu disuguhkan untuk pengunjung secara gratis. Sementara di perairan terlihat atraksi jet sky, banana boat, dan flying fish. Sebelumnya, di perairan Pulau Makasar bagian timur diselenggarakan renang tradisional, lomba perahu naga, dan voly pantai.

            Walikota Baubau, MZ Amirul Tamim berharap agar Pantai Lakorapu Pulau Makasar bisa dikelola secara terus-menerus untuk dijadikan tempat wisata pantai. Untuk mewujudkan hal itu maka sebaiknya dikelola pihak swasta secara komersial, sedangkan pemerintah kota membantu infrastruktur.

            Pemerintah Kota Baubau berkomitmen untuk meningkatkan sektor kepariwisataan yang mengarah kepada kegiatan ekonomi produktif masyarakat. Hanya saja, komitmen itu tidak ditunjang oleh pemerintah pusat. Misalnya, untuk pengembangan bandar udara Baubau pemkot Baubau sangat mengharapkan bantuan dana dari pusat. “Cukup kita dibantu Rp 20 miliar, sudah bisa memperluas bandara Baubau,” kata Amirul Tamim.

Saat ini Bandar Udara Betoambari hanya disinggahi kapal terbang berbadan kecil atau berpenumpang sekitar 15 orang dengan jadwal tiga kali sepekan. Karena itu, sangat sulit melayani masyarakat luar yang akan datang menyaksikan berbagai potensi wisata di Baubau. Padahal, kalau bandara Baubau sudah memungkinkan didarati pesawat besar maka orang Jakarta, misalnya, tidak perlu lagi berlibur secara membosankan di puncak dengan waktu enam jam perjalanan, melainkan dapat memilih alternatif wisata ke Baubau dengan waktu tiga jam penerbangan.

Pemerintah Kota Baubau tidak bisa sepenuhnya menganggarkan pengembangan bandara melalui APBD sebab masih harus memperhatikan penganggaran sektor lain secara proporsional. Karena itu, “Kita sangat mengharapkan bantuan pemerintah pusat,” kata Amirul.

Namun demikian, Pemkot Baubau sudah bertekad untuk secara terus-menerus melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan kepariwisataan. Pada bulan Oktober 2008 akan digelar lagi Festival Batupuaro di Pantai Nirwana. “Namun kita juga tetap melibatkan potensi yang ada di Pulau Makasar,” kata Amirul.

Festival Perairan Pulau Makasar sendiri sudah masuk agenda rutin tahunan, yang diselenggarakan setiap bulan Juli karena pada saat itu air laut sementara teduh. Menyambut hal itu, Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam berjanji akan melibatkan instansi tingkat provinsi dan kabupaten/kota se-Sultra untuk mengambil bagian dalam acara Festival Perairan Pulau Makasar. (**)

 

Dijaga dari Empat Penjuru

 

Perairan Pulau Makasar hari itu dipenuhi ratusan armada berupa kapal fiber dan perahu tradisional. Penumpangnya rata-rata mengenakan baju kebesaran adat. Dari bukit Wantiro, ribuan orang pun menyaksikan sayup-sayup kedatangan armada-armada laut yang terus bergerak mendekat. Ada apa?

 Melihat ratusan armada laut yang berseliweran di perairan Pulau Makasar hari  itu langsung terlintas pemikiran sejumlah warga Kota Baubau bahwa kira-kira begitulah suasana ketika terjadi perang laut antara pasukan Raja Gowa yang dibantu pasukan Luwu dan Bima melawan Laskar Kesultanan Buton yang dibantu tentara Bone dan Belanda. Puluhan ribu korban gugur dalam pertempuran di perairan Pulau Makasar pada 21 Desember 1666 tersebut.

            Namun seliweran kapal-kapal hari Sabtu (19/7) itu bukan untuk memperingati hari perang antara Gowa dan Buton, melainkan dalam rangka ritual laut “Tuturangiana Andala” sebagai bagian dari acara Festival Perairan Pulau Makasar. Ratusan kapal dan perahu tradisional mengawal pelarungan sesajian yang dipersembahkan untuk dewa laut.

            Masyarakat nelayan setempat meyakini acara tersebut dapat membukakan pintu-pintu rezeki di laut sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Dengan demikian maka mereka tetap nyaman dalam melakukan segala aktivitas penangkapan ikan dan mengambil kekayaan laut lainnya.

            Sesajian yang dipersembahkan kepada dewa laut terdiri bahan-bahan “popanga” berupa gambir, buah pinang, daun sirih, kapur sirih, tembakau, dan sejumlah penganan tradisional seperti cucur, wajik, epu-epu, onde-onde, lapa-lapa, dan telur ayam kampung. Juga dilengkapi darah kambing jantan yang diisi dalam gelas yang terbuat dari bambu.

            Sebelum dilarung ke laut, terlebih dahulu dilakukan pembacaan ritual yang dipimpin seorang pawang. Bertindak sebagai pawang adalah La Made alias Armudin, warga Baanabungi, Kelurahan Sukanayo.

            Sesajian tersebut kemudian diarak ke empat titik yakni kau malanga, jangkara, latonda kau/rape, dan bukit kolema. Empat titik tersebut selama ini dikeramatkan karena dianggap mempunyai “penghuni” yang menjaga wilayah Pulau Makasar. Benar atau tidak, namun keyakinan Pulau Makasar mempunyai “penjaga” sudah banyak terbukti, misalnya ketika terjadi tsunami akibat gempa tektonik Flores pada Desember 1992, maka banyak daerah pesisir sekitar Pulau Buton hancur, termasuk Waara yang jaraknya hanya satu mil laut arah barat Pulau Makasar. Namun Pulau Makasar hanya aman-aman saja.

            Tradisi “Tuturangiana Andala” sudah hampir punah. Menurut La Made, dalam kurun waktu 30 tahun terakhir tidak pernah lagi dilakukan. Karena itu, nelayan setempat sangat bersyukur dihidupkannya kembali tradisi itu melalui Festival Perairan Pulau Makasar. Selain itu, tradisi lain juga kembali hidup, seperti: “pesta adat Ma’taa” yakni kebiasaan masyarakat Buton pedalaman dalam menyambut musim tanam setiap tahun; “perahu naga” sebagai simbol kekuatan, kehidupan peradaban yang mengedepankan akal sehat; “dayung sampan tradisional” sebagai kebiasaan masyarakat sejak abad ke-14 hanya menggunakan sampan sederhana untuk memancing ikan dalam memenuhi kehidupan keluarga; dan “renang tradisional” sebagai kebiasaan masyarakat Pulau Makassar dan sekitarnya yang hanya mengandalkan kekuatan fisik mampu menangkap ikan dan mengambil benda-benda dasar laut serta mampu menyeberangi daerah sekitar dengan cara berenang tanpa bahan Bantu, seperti pelampung.

            Festival Perairan Pulau Makasar juga menghidupkan kesenian tradisional, seperti tari Kalegoa, tari Linda Pajoge, tari Hekabua, tari Lumense, tari Laoti te Waoti, musik Latatou, serta Kabanti Gambus. Acara seni tersebut diperankan pada panggung Kelurahan Liwuto yang berhadapan langsung dengan Makam Sultan Buton VIII, Mardan Ali Oputa Yi Gogoli.

            Semua tarian itu terkait erat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Misalnya; Tari Kalego menggambarkan tentang gadis Buton yang akan memasuki usia dewasa dilakukan pingitan selama delapan hari dan delapan malam. Selama berada dalam pingitan mereka diajarkan pengetahuan tentang moral, etika, dan keterampilan bilamana akan berumah tangga kelak, sesuai dengan tata cara adat Buton berdasarkan ajaran Islam. Atau Tari Linda Pajoge sebagai tari pergaulan pada acara adapt, pesta panen, maupun acara hajatan yang diiringi tabuhan tradisional dan lagu.

            Sementara suasana peperangan antara pasukan Kerajaan Gowa melawan Kesultanan Buton yang berujung pada penawanan 10.000 tentara Gowa di Pulau Makasar ikut ditampilkan dalam seni drama malam Festival Perairan Pulau Makasar.

            Festival Perairan Pulau Makasar kini sudah masuk agenda tahunan. Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam ketika memberi sambutan pada acara festival berjanji akan mendukung acara tersebut dengan melibatkan unsur pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota se-Sultra. “Festival ini kita akan jadikan ajang yang lebih luas lagi, dalam skala nasional,” tandas Nur Alam disambut tepuk tangan ribuan hadirin yang ada di pelataran bukit Wantiro dan yang berada di atas kapal yang sementara mengapung-apung di atas laut. Tentu saja Walikota dan masyarakat Kota Baubau menunggu janji itu! (**)