Berita
Waborobo Bakal ‘disulap’ Ala Kompleks GWK Pulau Bali

Cita-cita menjadikan Bau-Bau sebagai Kota Tujuan Wisata di Indonesia memang bukan pekerjaan mudah, tapi langkah kongkrit telah dimulai jajaran Pemerintah Kota Bau-Bau untuk menggapai impian itu. Salah satunya mewujudkan even Festival Perairan Pulau Makasar di Bau-Bau Juli mendatang. Dan yang paling ambisius, adalah mewujudukan Kawasan Waborobo Betoambari seperti Kompleks wisata Garuda Wisnu Kencana (GWK) Pulau Bali. Seperti apa bentuknya?

Jumat Pagi 30 Mei 2008 menjadi pagi yang menyenangkan. Bagi sejumlah jajaran Pemerintah Kota Bau-Bau yang dipimpin Walikota Amirul Tamim, suasana panas tidak terasa, sebab sunguhan panorama Pulau Dewata Bali begitu eksotik. Dari kawasan Pantai Kuta, rombongan yang terdiri dari Drs Syaifuddin Azis (Asisten II Bau-Bau), Drs Muh Djudul M.Si (Kadis Pariwisata Bau-Bau), La Ode Zam-Zam SE, M.Si (Kabag Pembangunan), Zakir SE, M.Si (Kabag Keuangan), Haeruddin (Staf Sekretariat Kota) dan Hamzah (Staf Infokom Bau-Bau) bergerak menuju sejumlah kawasan wisata Pulau Bali, seperti Nusa Dua, Tanjung Benoa, dan Pulau Penyu. Namun objek yang menjadi tujuan utamanya adalah kompleks wisata garuda Wisnu Kencana (GWK).

Kawasan GWK adalah proyek ambisius Indonesia dimata dunia, disana terdapat Patung Wisnu yang mengendarai Garuda. Disebut ambisius, karena patung ini direncanakan terbangun dengan ketingian diatas 130 meter, dibuat untuk mengalahkan Patung Liberty Amerika yang tingginya hanya 125 meter dan saat ini tercatat sebagai patung tertinggi di dunia. Saking ambisinya, kawasan GWK yang dibangun sejak zaman Presiden Soharto ini juga direspon langsung oleh Presiden SBY, agar GWK dapat rampung kurun waktu 5 tahun kedepan, dan tercatat sebagai ikon baru dunia yang lahir di Indonesia.

Patung Wisnu bukan satu-satunya ikon kawasan itu, disana juga terdapat area kawasan yang sangat mirip kawasan Waborobo Betoambari. Inilah yang menjadi materi khusus Walikota Bau-Bau Amirul Tamim mengikutkan beberapa jajarannya ke Pulau Bali. “Saya ingin kawasan Waborobo terbangun kawasan wisata seperti ini, kita mulai tahun 2009” pinta Walikota.

Kawasan yang dimaksudkan Walikota adalah kawasan penyangga Patung Wisnu, luasnya kira-kira 500-an hektar, yang terdiri dari bukit-bukit batu yang konturnya sama dengan bebatuan Waborobo, tanaman yang tumbuh pun hanya berupa semak. Sama persis dengan Waborobo. Namun, karena ‘dipermak’ sedemikian rupa, bukit-bukit itu menjelma sebagai kawasan wisata yang sungguh menarik jutaan wisatawan setiap tahunnya.

Sebenarnya, bentuk sederhana. Hanya bongkahan bukit yang dipapah menjadi puluhan kotak dengan ukuran masing-masing 10 x 10 meter. Setiap papahan bukit diantarai jalan hotmiks dan taman-taman kecil. Dan setiap satu kawasan perbukitan dibuat pelataran yang luasnya 25 x 100 meter, yang hanya ditanamai rumput hijau.

Bukan sekedar bongkahan bukit tersebut yang memikat hati walikota, sejumlah fasilitas lainnya seperti ruang Theater juga menjadi ‘catatan tangan’ Walikota. Saking seriusnya Amirul untuk ‘meniru’ kawasan BWK tersebut, ia sendiri yang memotret area theater yang bentuknya terbuka itu. “Sangat simpel, terbuka, dan penonton bisa menikmati semua pertunjukan” ujar Amirul.

Jika dipantau dari ketinggian, tepatnya disekitar patung GWK, kawasan bukit-bukit penyangga itu seperti kompleks kota-kota zaman Babilonia. Selain patung wisnu, ruang teater dan bongkahan bukit yang dipapah dengan rapi, disana juga terdapat ruang pertemuan, ruang museum hingga aneka kompleks penjualan souvenir dan kuliner. Menariknya, meski lain fasilitas, tapi unsur penarik wisatanya sangat mengemuka, sehingga setiap bagian tersedia menjadi daya tarik tersendiri bagi yang mengunjunginya. “Sampai di Bau-Bau, buat detail gambarnya, dan prosentasekan di hadapan masyarakat, jika kita ingin menjadikan Waborobo seperti kawasan GWK Pulau Bali, ” ujar Walikota.

Penunjang Festival Pulau Makasar
Selain mengunjungi Kawasan GWK Pulau Bali, kegiatan study event Pariwisata tersebut, juga dimanfaatkan belajar memanejemeni festival Pulau Makasar yang digelar 19-21 Juli mendatang. Di pandu Ketua Koperasi Wisata Tanjung Benoa, I Wayan Ronten, rombongan cukup ‘berkeringat’ mendengarkan pelajaran pengelolaan sebuah festival. Mulai dari teknik menjual opini, pembentukan team kerja hingga managemen kegiatan pada saat hari H.

Dari Tanjung Benoa, disepakati juga pengadaan fasilitas penunjang Festival Pulau Makasar, seperti pengadaan Jet Sky, Boat Kaca, Flying Fish dan Banana Boat. “Semuanya akan dihadirkan untuk even Fetival Pulau Makasar nantinya,” papar Muh. Judul, Kadis Pariwisata Seni dan Budaya Kota Bau-Bau. (hamzah)